Sore itu.. disaat wiken.. bingung mo ngapain… akhirnya daripada bingun en bingun… saya hela si kuda besi abu-abu Honda CS1 keluar rumah menuju Bontang Kuala… sendirian pula.. Wah… semilir angin sore itu terasa segar menerpa wajah.. (padahal pakai helm dengan face shield… hehehehe… ngarang deh)
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 6 di sore hari.. dah hampir gelap yach… terus saja si kuda besi itu kupacu ke kampung Bontang Kuala yang tersohor di kota Bontang itu. Siapapun yang pernah berkunjung ke Bontang apalagi stay di Bontang pasti tahu Bontang Kuala… buat yang belum pernah ke Bontang… silahkan penasaran dulu yach… hehehehe… baca cerita dan lihat fotonya di beberapa blog dan website dulu aja deh
Click here to read more.. »
Bontang tempat saya dan keluarga tinggal telah semakin dikenal dibandingkan dengan lebih dari 15 tahun yang lalu saat saya mulai menginjakkan kaki di bumi Kalimantan Timur ini. Bontang sekarang juga semakin ramai, walau akses ke Bontang melalui udara dan laut tidak mengalami kemajuan alias itu-itu saja.. namun transportasi darat dari Samarinda ke Bontang mengalami kemajuan yang pesat.. dulu bis AKDP yng digunakan adalah bis tigaperempat dengan AC palsu alias Angin Cendela yang panas.. sekarang sudah banyak bis umum jalur Bontang-Samarinda pp, bahkan Bontang-Balikpapan pp yang menggunakan AC beneran.. alias Air Conditioning
Lalu bagaimana dengan penghijauan kotanya? Ini yang agak sulit.. kemajuan kota sepertinya sebanding dengan
meningkatnya jumlah penduduk.. peningkatan jumlah penduduk tentunya membutuhkan lahan yang luas untuk tempat tinggal.. Nah, sepertinya sulit mendapatkan area di Bontang yang dipenuhi oleh pepohonan besar-besar yang rindang (hmm.. sepertinya disepanjang jalan Samarinda-Bontang nasibnya juga sama.. ). Ini sih sudah problem lamaaaaa yach… Pemkot Bontang saat ini sedang berusaha untuk membuat Bontang lebih hijau dengan slogan Kota Taman nya .. Tertib-Mandiri-Agamis-Aman-dan Nyaman.. bener-bener disulap menjadi kota yang penuh taman… Hmm.. tapi yang namanya taman kan bukan berisi pohon-pohon hutan yang gede-gede? Lalu dimana bisa melihat hutan kota yang hijau di Bontang? Click here to read more.. »
Masih cerita ketika di Jogja bulan lalu… jalan-jalan bersama keluarga, tepatnya di hari Minggu 25 Januari 2008.. denbagus Aldi minta diantar ke Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala Yogyakarta… Kenapa minta kesitu? Karena dulu ketika menemani denayu sekolah S2 di Jogja, Aldi yang masih TK sempat diajak ke Museum itu yang banyak pesawat terbangnya.. alhasil dia pun ingin bernostalgia kesitu. Yach.. cerita sebulan yang lalu.. mudah-mudahan masih bisa runtut menceritakannya. Maklumlah, akhir-akhir ini sibuk banget.. sampai-sampai ndak sempat ngeblog.. apalagi blogwalking (maaf ya teman-teman… saya pasti singgah kok… ).. Kembali ke laptop.. eh.. kembali ke topik.. Siang itu Jogja panas banget, pinjam si Zebra punya bunda keluaran tahun 1988 yang masih joss
mesinnya, kami berempat pun meluncur ke daerah Janti – Jogja, tepat setelah menyeberang rel KA dari arah utara dibawah jembatan layang Janti.. kamipun masuk ke kompleks TNI-AU.. harus lapor dulu ke petugas piket.. ngisi buku tamu.. karena Museum itu berada didalam kompleks TNI-AU. Ndak jauh dari gate piket tadi… sampailah ke area Museum yang sudah banyak mobil pengunjung parkir disitu.. Jelas sekali terlihat kalau itu museum pesawat terbang karena di lapangan banyak dipasang pesawat-pesawat terbang milik TNI-AU yang sudah tidak dioperasikan lagi…
Click here to read more.. »
Numani… bisa berarti sesuatu yang bikin kita ketagihan untuk menikmatinya lagi, that is bahasa Jawa… tapi yang ini adalah nama sebuah Rumah Makan di daerah selatan Jogjakarta.. tepatnya di jalan Parangtritis Kabupaten Bantul. Mungkin maksud si empunya rumah makan memberi nama Numani agar siapa yang datang kesitu, bakalan datang lagi alias tuman.. alias ketagihan… Buat warga Jogja atau yang sering ke Jogja, tentunya tau rumah makan sejenis RM Numani yang banyak bertebaran di Jogjakarta.. rumah makan yang didesain ala pedesaan dengan saung.. oppss.. gubuk-gubuknya.. dikelilingi kolam ikan disekitarnya.. dengan menu gurami goreng.. gurami bakar.. ikan nila goreng.. mangut lele.. wader goreng.. ayam goreng.. dan lain-lain. Saat itu hari Senin 26 Januari 2009 pas liburan Imlek,.. Gong Xi Fat Choi… saya sekeluarga bersama
bunda dan keluarga dinda dari Solo bersama-sama menuju RM Numani untuk makan siang bersama.. 14 orang.. keluarga besar
Saat itu yang namanya RM Numani lagi banyak pengunjung, selain mobil pribadi… ada 3 bis pariwisata yang parkir disitu juga.. wuih.. penuh tenan. Maklumlah, long weekend.. Jogja diserbu wisatawan.. apalagi RM Numani kan terletak di akses jalan menuju pantai Parangtritis yang terkenal itu. Saung.. eh gubug yang kosong tinggal jauh dibelakang.. sebenarnya dekat dengan hamparan sawah hijau nan asri.. namun karena areanya panas dan bising genset.. kami pun pilih di gubug yang agak di tengah.. di dekat kolam ikan… tentunya harus sabar menunggu meja dibersihkan karena baru saja selesai dipakai pelanggan yang lain. Menunya apa saja sih yang dipesan? Enak nggak? Click here to read more.. »
Jangan heran dengan judul posting di atas, ini sungguh-sungguh terjadi. Buat saya yang bekerja di kompleks pabrik petrokimia larangan foto di area pabrik adalah hal yang wajar demi keselamatan… tetapi ini di lobby hotel loh.. Penasaran? Baca cerita selengkapnya deh…
Rabu 21 Januari 2009 yang lalu saya dapat kesempatan lagi dinas ke Jakarta, sebelum cuti seminggu ke Jogja bersama denayu dan denbagus for graduation ceremony hasil “pertapaan” selama ini…
Sebenarnya perjalanan ke Jakarta bukanlah hal yang luar biasa untuk diceritakan karena di blog ini pun saya sudah sering cerita tentang perjalanan ke Jakarta. Namun perjalanan kemarin adalah pengalaman baru buat saya yang sebenarnya tidak saya sengaja untuk saya dapatkan. Diawali dari kerusakan teknis PK-PKT Pelita Dash-7 yang harus membawa saya dari Bontang ke Balikpapan jam 07.15 LT membuat saya tidak bisa nyambung dengan pesawat Garuda ke Jakarta GA-515 jam 09.50 LT yang tiketnya sudah saya pegang. Pesawat PK-PSV Pelita Dash-7 pengganti dari Balikpapan baru tiba jam 09.20 LT di Bontang untuk terbang kembali lagi ke Balikpapan membawa saya (dan penumpang lain tentunya…). Beruntung saya bisa dapatkan seat di penerbangan Garuda berikutnya GA-517 jam 12.30 LT dengan membayar biaya administrasi perubahan Rp. 50.000,- ketika check in (kebetulan kelas tiketnya di N). Lalu apa yang menjadi istimewa di perjalanan ke Jakarta kali ini? Click here to read more.. »
Ini buaya beneran loh (sebelum diprotes sama warga Balikpapan… hehehehe), saya sebut buaya Balikpapan karena memang saya dan keluarga melihatnya di Balikpapan ketika berlibur akhir bulan tahun yang lalu.. Diawali dari kegemaran denbagus Aldi melihat binatang-binatang, mintalah dia ke kebun binatang… lha kalau kebun binatang di Balikpapan dimana atuh? Ya ndak ada.. dong, ndak ada yang seperti Gembira Loka di Yogyakarta atau Ragunan di Jakarta. Secara geografis, Balikpapan kan terletak di Kalimantan.. “Aldi jangan kuatir deh, pasti akan ketemu binatang”.. hehehe. Kalau mau lihat orang utan ya ke wanariset Samboja, kalau mau lihat beruang madu ya ke Kebun Raya Samarinda, nah kalau mau lihat buaya sampai puas ya datang aja ke penangkaran buaya di Teritip Balikpapan.. Sore itu si OXXY meluncur ke Teritip.. perjalanan sekitar setengah jam dari Bandar Udara Sepinggan di Balikpapan arah Handil.. CMIIW.. setelah melewati kawasan wisata pantai Manggar.. pantai Lamaru, sampailah ke Teritip… Click here to read more.. »
Judulnya jelas kalau ini cerita tentang kuliner…
Yang menjadi unik adalah ketika saya dan keluarga “menemukan” warung mie Jogja di Balikpapan.. dengan merek.. “Mbah Darmo”
Diawali dengan “kebingungan” kami mencari menu makan malam yang “sederhana”.. alias cepet dan murah.. setelah puter-puter kota Balikpapan untuk kembali ke Hotel Sagita tempat kami menginap.. tiba-tiba mata kami tertarik pada sebuah warung di jalan Mayjend Sutoyo masih di kawasan gunung Malang di dekat hotel Sagita.. “Mie Jogja Mbah Darmo”.. akhirnya kamipun sepakat untuk makan disitu.. Si OXXY pun harus puter balik karena dah telanjur lewat.. Hmm.. ndak jadi makan di hotel nih.. ngirit.. ngirit.. begitu pikir saya
Seperti apa sih Mie Jogja ala Balikpapan itu…??
Click here to read more.. »
Review hotel lagi… dah lama saya ndak review hotel di blog ini
Ceritanya ini lanjutan dari menghabiskan duit.. eh.. waktu libur panjang Natal tahun bulan lalu.. setelah dikepung banjir di Samarinda, pindahlah kami ke Balikpapan, nginep di hotel Sagita di Jalan Mayjend. Sutoyo kawasan Gunung Malang Balikpapan (banyak nama daerah di Balikpapan diawali dengan “Gunung” yach..). Hotel bergaya tradisional dan modern yang minimalis, menjanjikan sesuatu yang berbeda.. It’s a FUNtastic day in Balikpapan… serve with genuine above the expectation… tradition with hospitality… begitu slogannya .. wee.. ee.. ee.. apa iya? Ikuti tulisan ini selanjutnya.. ceilah.. dah kayak reporter aja. Sssttt… ini adalah kunjungan pertama kali ke Hotel Sagita… begitu mobil masuk halaman hotel Sagita menuju lobby (eh.. perasaan ndak ada halamannya deh.. ).. langsung disambut kesan tradisional Kalimantan… bangunan bergaya atap Lamin etam.. manis dilihatnya. Hanya saja.. denbagus Aldi protes.. dia mau nginep di hotel yang ada liftnya.. hotel yang tinggi… Lha gimana coba.. hotel Sagita dari depan kan ndak kelihatan tinggi sih.. Terpaksa deh… keahlian bujuk rayu dikeluarkan… “Nak.. hotel yang ada liftnya dah penuh.. sini saja ya”..
Click here to read more.. »
Posting ini lanjutan cerita sebelumnya tentang Liku-Liku perjalanan ke Samarinda liburan panjang “cuti bersama” akhir Desember tahun yang lalu.. weleh.. sudah tahun yang lalu, dah lama banget donk
Ya ndak lah.. kan belum ada sebulan, masalahnya baru sempat “mencatat” di sini sekarang sih. Kabarnya, Samarinda banjir dimana-mana.. jalan ke Mall Lembuswana pun terendam, karena bosan dengan SCP.. SCP.. SCP.. melulu, maka setelah semalam di Samarinda kami pun memutuskan untuk “pindah” liburan ke Balikpapan.. alias semakin jauh dari Bontang… Ndak-apa-apa lah.. dinikmati ajah.. kan libur 5 hari gitu loh
Katanya di Balikpapan ada Hypermart baru… ada
Cinema XXI baru… kan bisa ngelihat.. halah.. ndesmit deh.. hehehehe. Siang itu si OXXY yang setia menemani kami, dihela menuju Balikpapan.. cuaca mendung.. diselingi hujan rintik-rintik.. membuat perjalanan ke Balikpapan dari Samarinda tidak terasa panas..:-)
Menyusur sepanjang tepian sungai Mahakam yang airnya terlihat tinggi dan menyeberang jembatan Mahakam pun terasa asyik.. Hmm.. saya jadi ingat konon cerita barangsiapa pernah “minum” air sungai Mahakam maka dia akan kembali ke Kaltim untuk suatu urusan apapun… gugon tuhon lagi…
Katanya sih bukan berarti “minum” air Mahakam yang coklat itu loh, minum dari air tanah di Kaltim pun juga akan demikian… hehehehe…. Loh..loh.. kok malah cerita tentang Mahakam.. road to Balikpapan gitu loh
Jalan Samarinda-Balikpapan relatif muulluusss.. walau ada longsor di beberapa tempat.. Walaupun tetap berkelok-kelok.. namun enak untuk diarungi karena lebih lebar dibandingkan jalan Bontang – Samarinda. Pembuatan jalannya pun mengikuti kaidah Teknik Jalan Raya.. kalau nikung ya dimiringkan aspalnya.. lha kalau Bontang – Samarinda walau menikung tajam.. permukaan aspalnya ya datar-datar saja.. halah
Apalagi melewati kawasan Bukit Soeharto, idum rasane.. eyup.. eh rindang dan adhem gitu loh… Dua jam perjalanan ke Balikpapan dari Samarinda tak terasa capek.. hanya saja sesampainya di Balikpapan kok trus lapar.. hmm.. enaknya makan dulu deh, makan dimana ya? Nah.. ccerita road to Balikpapan akhirnya cerita makan juga.. gemana seh?
Click here to read more.. »
