Takjub dan Lengah

Akhir tahun 2011 ini Kaltim dikejutkan dengan peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) di kota raja Tenggarong, waktu kejadian itu saya sedang berada di Jakarta untuk urusan kerjaan. Sore itu seorang teman di Bontang mengirimkan gambar situasi runtuhnya jembatan via BBM, saya pun tidak menganggap serius kiriman gambar itu, malahan hampir saja saya “memperingatkan” teman saya untuk tidak membuat lelucon dengan foto rekayasa tragedi seperti itu. Belum sempat saya reply, kiriman tentang berita runtuhnya jembatan Kukar menyerbu BB saya… Saya pun segera meluncur ke situs2 berita di internet… Ya Tuhan..ternyata memang benar kejadiannya!
Pikiran saya pun menerawang ke beberapa tahun lalu, saat  pertama kali saya melihat jembatan Kukar dan melaluinya. Takjub! Itu yang ada di benak saya. Beberapa kali saya melewatinya, entah khusus blusukan di bawah jembatan di kala senja untuk mengabadikan gagahnya jembatan itu atau hanya sekedar melewatinya untuk menemani tamu-tamu perusahaan yang ingin melihat kota raja, ketakjuban itu selalu ada.
Saya takjub dengan hasil karya manusia yang megah dan kokoh itu, tali penggantungnya pasti kuat! Bagaimana tidak, rangka jembatan yang dari besi baja itu kelihatan berat, belum lagi aspal jalannya, pasti talinya kuat banget. Jikalau selama ini saya hanya bisa melihat jembatan seperti Golden Gate SF di film atau foto, kali ini saya bisa melihat sendiri bahkan melaluinya. Takjub!
Dibalik ketakjuban itu, ternyata menyimpan suatu kelemahan. Ketakjuban itu ternyata dapat mengurangi bahkan menghilangkan kewaspadaan. Ketakjuban itu membuat lengah, bahwa jembatan yang megah dan kokoh itu tetap memerlukan pemeliharaan yang terstruktur dan terencana, bukan pemeliharaan reaktif yang dilakukan setelah ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.
Nasi telah menjadi bubur! Ada pelajaran mahal yang bisa dipetik dari peristiwa ini.
Saya sering mengatakan, kalau punya uang belilah mobil baru daripada mobil bekas yang sudah belasan tahun umurnya, karena mobil baru di lima tahun pertama akan “free maintenance”. Tentunya “free maintenance” disini bukan berarti tidak dirawat sama sekali, service rutin seperti ganti oli pun tetap harus dilakukan. “Free maintenance” yang dimaksud pun adalah free dari repotnya menghilangkan bunyi-bunyian yang tidak diinginkan yang biasa muncul setelah mobil berusia belasan tahun.
Ketika jembatan itu masih baru  memang tidak perlu dikencangkan baut2nya, tidak perlu distel tegangan talinya, lalu…? Seperti halnya mobil baru, tetap saja perlu service rutin… Takjubnya mengendarai mobil baru belum tentu bebas dari masalah jika perawatannya salah, jangan lengah!
Saya pun kembali ingat pitutur nenek moyang: Ojo gumunan! :-)

This entry was posted in Experience, Manajemen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>