Setelah dari Candi Prambanan, saya dan rombongan diklat meluncur ke Kotagede, salah satu tujuan wisata di Jogjakarta yang terkenal dengan peraknya… tepatnya kerajinan peraknya. Terletak di tenggara kota Jogjakarta, kecamatan Kotagede tidak begitu jauh dicapai dari Prambanan atau kota Jogjakarta (asal jangan jalan kaki… hehehehe). Lagi-lagi sebagai “wong Jogja” saya tidak pernah dengan sengaja pergi ke Kotagede untuk mencari perak kalau tidak sedang menemani tamu dari luar kota Jogja.. namun karena dihitung-hitung saya sudah hampir 18 tahun tinggal di bumi Kalimantan Timur (jadi orang Kalimantan nih..) maka tidaklah aneh jika kali ini saya antusias sekali ikut-ikutan mencari perak di Kotagede
Memasuki kawasan Kotagede sudah disambut dengan deretan showroom perajin perak.. dari yang besar seperti Tom Silver, HS Silver, sampai yang kecil-kecil di teras depan rumah penduduk … berjajar-jajar… Kebetulan saya dan rombongan dibawa oleh pengantar ke Ansor’s Silver di rumah kalang, rumah kuno yang berdesain unsur Jawa dan Eropa lengkap dengan mosaik kaca patri berwarna-warni menutup pendopo yang dijadikan galeri kerajinan perak… Konon dahulu rumah ini dimiliki oleh pengusaha kaya di Kotagede yang kemudian saat ini dimiliki oleh keluarga Ansor. Di kompleks Ansor’s Silver ada pula restaurant Sekar Kedhaton yang kental dengan interior budaya Jawa yang tetap dilestarikan oleh pemiliknya.
Begitu turun dari mobil.. saya langsung tertarik dengan demo pembuatan kerajinan perak yang diperagakan oleh beberapa pengrajin… lengkap dengan penjelasan yang diberikan oleh mbak berbaju batik yang cantik dan ramah… (ehemmm…). Disitu saya bisa melihat bagaimana bahan baku perak yang diambil dari Cikotok Jawa Barat diolah… berapa campuran tembaga yang harus ditambahkan agar perak mudah dibentuk dan diukir.. bagaimana membersihkan perak dengan biji lerak, pembersih perak tradisionil yang pohonnya sudah langka tetapi buahnya banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional di Kotagede.
Setelah melihat demo pembuatan kerajinan perak, saya (dan rombongan) masuk ke counter penjualan di
pendopo rumah itu.. Nuansa Jawa terasa begitu kental… membuat suasana yang berbeda dibandingkan toko-toko yang lain… Semua jenis kerajinan perak dapat diperoleh dilihat disitu..
Dari bros, kalung, anting, pin, cincin, gelang, jepitan dasi, model candi borobudur, prambanan, becak, andong, .. sampai helm keselamatan kerja.. nah loh… Dari harga yang belasan ribu rupiah sampai jutaan rupiah bisa dipilih…
Tapi karena tidak ada rencana beli sesuatu… akhirnya saya hanya beli cincin perak (asli) seharga 120 rb
Hmm.. ternyata menarik juga ikut mencari perak di Kotagede… bisa diceritakan ke teman-teman




wah … bener2 turis sampeyan ya
, blom pernah sih ke kotagede, dulu waktu ikut tur di bali juga diajak masuk ke beberapa pengrajin perak di sana, tapi ya nggak tertarik utk membelinya
>>> soal perak.. sama mbak, saya juga masih mikir-mikir kalau harus beli perak.. apalagi yang mahal-mahal itu… senengnya ngeliat saja…
saya titip satu mas peraknya, yang asli yak…
>>> boleh, mas.. asal jangan medali perak Olympiade saja..
masa smp saya di kotagede…
>>> Oh.. mekaten… berarti sangat akrab dengan kipo dong, mbak
dulu sewaktu kuliah(sekarang dah enggak dong!!!), saya KKN(kuliah kerja nyata) di Kotagede, mengangkat tema industri perak rumahan yang semakin terpuruk akibat gempa, ….so much memory, masyarakatnya baik-baik
>>> thanks kunjungannya.. lam kenal. Salam buat Manado….
ih wow!!!!! itu yg terucap dalam hati gw ketika gw berkunjung ke Ansor’s Silver. ternyata bo’ kerajinannya wah bagus buaaaaaaaaanget deh! T-O-P B-G-T dah! sayang hargany ngak nuahaaaaaan! mahal buanget, tdk sesuai dgn kantong anak sekolah kayak gw. But, gw sng kok bs2 ngeliat-liat doang!sukses ya buat Ansor’s Silver!
salam kenal …saya juga pengrajin perak untuk grosiran di jati negara
…jakarta timur..hanya saja industri kerajinan kini tidak skencang dan serame
seperti sebelum tahun 2008, banyak barang import produksi mesin(cor-coran)yang
harganya lebih murah (meski kadar peraknya di dipertanyakan)dan sudah di croom
mirif emas putih (meski modelnya pasaran karena di produksi sangat masal) semua
bengkel pengrajin perak di Jakarta kini tengah memutar otak bagaimana usahanya
tetap jalan bukan lagi mikir untung rugi tapi sampai kapan dan bagai mana
caranya untuk bisa tetap survive.
usaha di kerajinan perak masih aktif tapi khusus untuk kelas grosiran sudah mullai di kurangi karena profitnya dan perputaran tidak terlalu kencang. Fokus saya mulai beralih di kerjinan perak yang bersipat khusus sperti membuat Bros yang antik/mewah dan gede-gede. Sebagai gambaran satu Bros bobotnya 35 gram (masih rangka blum termasuk batu) dengan lama pengerjaan 7 hari jam kerja (belum di tambah jam lembur) dan ongkos bikin 700 000. Ditambah usaha sampingan coba-coba main di emas muda untuk kelas pasar becek (karena untuk kelas pasar swalayan kadarnya diatas 70% berarti modalnya lebih gede dan biasanya mainya bukan lagi batu zircon tapi berlian. Berarti modalnya juga lebih berat lagi) saya masih melihat-lihat pasar kapan waktu yang tepat harus masuk lagi ke industry grosiran siapa tahu ada masanya orang bosen barang import yang modelnya pasaran dan seperti jajanan pasar terus balik lagi ke industry lokal.
0817225413
aa.kimos@gmail.com
salam kenal…
saya memiliki perak yang belum dilebur sekitar 9 kg
kemana saya bisa menjualnya ??
kemana saya bisa meleburkan perak itu ??
thx before….:)
>> bantu up…