Hmmm… minggu lalu saya ada tugas perusahaan ke Surabaya (jalan-jalan lagi ceritanya). Diakhir meeting, tuan rumah menawari seluruh peserta yang datang dari pelosok negeri ini untuk bersama-sama menengok lokasi Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo Jawa Timur. Awalnya saya agak ragu untuk ikut.. bukannya apa-apa sih.. saya ndak tega melihatnya.. membayangkan kesulitan yang didapat masyarakat setempat akibat “bencana” tersebut. Namun setelah saya renungkan, gak ada salahnya juga saya ikut untuk lebih menghayati apa yang sebenarnya terjadi dengan mata kepala sendiri.. tidak dari koran, TV, ataupun internet..
Akhirnya 1 Agustus 2008 meluncurlah kami dengan dua mobil penuh ke Porong Sidoarjo melewati tol Surabaya – Gempol yang putus di Porong… semua kendaraan dari arah Surabaya keluar di pintu Tol Porong/Tanggulangin. Keluar dari pintu tol sore itu jalanan ramai lancar, untung tidak macet. Keluar dari pintu tol langsung dihadapkan pada tanggul tinggi penahan lumpur yang sudah ditumbuhi rumput, memanjang sepanjang jalan raya Porong.. disitu ada juga rel kereta api yang masih aktif dilalui untuk trayek KA dari Surabaya ke Malang/Banyuwangi dan sebaliknya… Duh.. saya membayangkan andaikan tanggul itu jebol.. *jangan ah…*.
Tak jauh-jauh dari pertigaan pintu tol-jalan raya Porong ke arah Malang.. kami pun berhenti. Disitu sudah banyak kendaraan pengunjung yang parkir dipinggir jalan juga. Begitu turun langsung ditarik fee parkir Rp. 5000,-/mobil. Parkir persis dipinggir rel KA dan tanggul yang sudah diberi anak tangga dari bambu oleh penduduk (baca: mantan penduduk) setempat yang desanya telah terendam lumpur. Sebelum naik ke atas tanggul.. kami pun ditarik fee Rp. 3000,-/orang atau lebih jika mau menyumbang… Bau sulfur pun segera menyengat hidung kami.. kalau tidak biasa.. pusing deh.. (untung saya dah biasa bau yang begitu-begituan…). Di atas sudah ada sekelompok “wisatawan” manca negara alias bule… (penasaran juga mereka… )
Sesampainya di atas tanggul segera disambut dengan guide lokal yang ujung-ujungnya menawarkan ojek untuk mendekati lokasi semburan.. dan menawarkan CD rekaman liputan Lumpur Lapindo.. Saya tidak ambil apa yang ditawarkan mereka. Bagi saya dengan berdiri di atas tanggul saja, melihat lautan lumpur dan asap dari kejauhan.. saya sudah bisa merasakan getirnya perasaan masyarakat yang terkena musibah… cukup sudah, tidak perlu mendekati atau melihat lengkap rekamannya. Tidak ada lagi atap rumah yang terlihat, kecuali atap bekas gudang (pabrik?).. padahal tadinya di tempat saya berdiri adalah desa yang padat penduduknya.
Di dekat tanggul ada pula semburan baru yang tidak berasap.. sepertinya semburan air dan gas menimbulkan gelembung-gelembung lumpur yang cukup seru… Di seberang jalan.. di daerah yang masih padat penduduknya.. tampak pula air mancur tinggi.. semburan liar di tengah-tengah bangunan rumah. Sayangnya saya tidak bisa mengambil fotonya dari kejauhan karena menantang sinar matahari sore.
Tidak lama disitu, setelah saya mengambil foto-foto untuk keperluan posting blog ini, saya pun segera turun lagi menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan ke pusat kerajinan kulit, tas, dan koper di Tanggulangin. Sepertinya lokasi musibah lumpur Lapindo menjadi tujuan wisata baru di Jawa Timur.. buktinya disitu terpampang spanduk yang sudah kumal “Selamat Datang di lokasi Wisata Lumpur Lapindo”… ck.. ck.. ck… Padahal menurut sumber dari BPPT, semburan itu kemungkinan baru berhenti 31 tahun lagi. Bagaimanapun semua kejadian di dunia ini dapat diambil hikmahnya, ya kan? Semoga..




wah, kok keren ya den…. kayaknya asik buat dipoto2
hehehehe
>>> oiitss.. manten anyar dah muncul
yoi.. keren.. apalagi kalau yang moto kang Ojat
Aku jadi ingat legenda RAWAPENING di Ambarawa (jawa: rawa yg luas).
Tdk ada yg dpt membayangkan 31 th lagi ‘tempat wisata LAPINDO’ akan jadi seperti apa.
Kalo Bung Kojat ini sekarang sedang menikmati legenda KASURAMBA.
>>> asal jangan KASURPENING… tiap di atas kasur jadi pening
makasih poto2ne mas, terbayang bagaimana para korban kalau liat tempat ini, dan terbayang juga bagaimana anaknya si bakrie menikah dengan sangat mewah
>>> sama-sama, mbak…..
wah, ni dia neh bencana yang membawa sejuta hikmah….
baru tau ternyata objek wisata kita nambah lagi
>>> thanks udah visit my blog… lam kenal
waw, keren foto”nya…. pengen juga maen ke sana….
kapan yah….
survey lokasi juga…. sapa tau bisa bikin warung makan bwat wisatawan yang berkunjung ke sana…. he he he…..
>>> thanks visitnya… Wah.. kayaknya kalau ke Lapindo gak betah lama-lama deh.. gak sempat makan jg kale ya? Hehehehe..:-)
kalau inget lapindo, inget ENRG
>>> Ingat ENRG .. ingat kuliah Portfolio Management..
kalo malaysia punya kuala lumpur.endonesa punya lumpur lapindo.:)
eh, gw ada posting ttg petualangan gw di 8 kota kalteng lho…(promosi, he…)
>>> di jawa tengah ada “kue lumpur”
Ok, saya sudah visit blognya.. mantabzz
tengkiw dah main ke blog gw.
serius ada kue lumpur????baru denger nih?jangan-jangan rasanya kayak lumpur ya:)
>>> rasanya manis banget bro…, udah jarang nemuin lagi tuh “kue lumpur”
tumben ndak posting2 … apa lagi wisata kuliner nih ?
>>> hehehehe.. tau aja nih…. lagi traveling, mbak..
OM desa mana saja yang tergenang lumpur lapindos ???
balese nang e-mailku ae yo yosicupu@gmail.com
matur suwun
>>> waduh.. saya kebetulan hanya sebagai visitor, mungkin blogwalker yang lain bisa bantu? maaf ya… anyway, matur thank you sudah berkunjung ke blog saya
kita semua berdoa
semoga penduduk korban lapindo
diberi jalan rezeki yang lebih oleh Allah SWT
kita yakin dibalik penderitaan ada kehidupan yang
lebih baik yang direncanakan oleh NYA, Amiin