Saya belum pernah menemukan makanan seperti ini dengan nama lain selain Selat Solo, walaupun di beberapa kota seperti Jogja dan mungkin kota-kota lainnya dapat dijumpai makanan dengan nama Selat Solo tetapi hanya di Solo – Jawa Tengah sajalah menu Selat Solo terenak dapat saya jumpai. Tidak ada salahnya jika sedang berkunjung ke kota Solo menyempatkan mampir ke warungnya mbak Lies di Serengan Solo. Lokasinya ada di gang kecil di seputaran kampung Sraten, cukup unik dengan hiasan keramik2 bernuansa Delft Blue-nya Belanda (konon Selat ini diilhami dari makanan khas Belanda) selain dekorasi Solo tempo doeloe yang membuat semakin asyik untuk bernostalgi di Solo. Pelayannya pun tidak lepas dari seragam surjan, kebaya, blangkon, dan gelung nya yang membuat suasana semakin tradisional.
Selat Solo isinya terdiri dari daging sapi (bisa utuh atau dicacah dan dibuat galantin), dengan asesoris telur ayam, daun selada, wortel, buncis, kentang, acar, dan mayonais ditambah kuah dingin seperti kuah bistik. Rasanya manis tentunya, pokoknya lezat dan maknyus. Ada beberapa variasi menu selat disitu, yang paling saya suka adalah Selat Galantin Kuah Segar… Memang seger tenan.. ![]()
Selain selat, ada juga menu tradisional lainnya, termasuk stup makaroni (saya yakin ini juga menu warisan jaman Belanda) dan yang tak kalah serunya adalah Sup Manten.. Sup yang biasa disuguhkan pada acara-acara mantenan di Jawa Tengah.
Wis lah.. Pokoknya mantep tenan… highly recommended :-D
Selat Solo
Takjub dan Lengah
Akhir tahun
2011 ini Kaltim dikejutkan dengan peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) di kota raja Tenggarong, waktu kejadian itu saya sedang berada di Jakarta untuk urusan kerjaan. Sore itu seorang teman di Bontang mengirimkan gambar situasi runtuhnya jembatan via BBM, saya pun tidak menganggap serius kiriman gambar itu, malahan hampir saja saya “memperingatkan” teman saya untuk tidak membuat lelucon dengan foto rekayasa tragedi seperti itu. Belum sempat saya reply, kiriman tentang berita runtuhnya jembatan Kukar menyerbu BB saya… Saya pun segera meluncur ke situs2 berita di internet… Ya Tuhan..ternyata memang benar kejadiannya!
Pikiran saya pun menerawang ke beberapa tahun lalu, saat pertama kali saya melihat jembatan Kukar dan melaluinya. Takjub! Itu yang ada di benak saya. Beberapa kali saya melewatinya, entah khusus blusukan di bawah jembatan di kala senja untuk mengabadikan gagahnya jembatan itu atau hanya sekedar melewatinya untuk menemani tamu-tamu perusahaan yang ingin melihat kota raja, ketakjuban itu selalu ada.
Saya takjub dengan hasil karya manusia yang megah dan kokoh itu, tali penggantungnya pasti kuat! Bagaimana tidak, rangka jembatan yang dari besi baja itu kelihatan berat, belum lagi aspal jalannya, pasti talinya kuat banget. Jikalau selama ini saya hanya bisa melihat jembatan seperti Golden Gate SF di film atau foto, kali ini saya bisa melihat sendiri bahkan melaluinya. Takjub!
Dibalik ketakjuban itu, ternyata menyimpan suatu kelemahan. Ketakjuban itu ternyata dapat mengurangi bahkan menghilangkan kewaspadaan. Ketakjuban itu membuat lengah, bahwa jembatan yang megah dan kokoh itu tetap memerlukan pemeliharaan yang terstruktur dan terencana, bukan pemeliharaan reaktif yang dilakukan setelah ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.
Nasi telah menjadi bubur! Ada pelajaran mahal yang bisa dipetik dari peristiwa ini.
Saya sering mengatakan, kalau punya uang belilah mobil baru daripada mobil bekas yang sudah belasan tahun umurnya, karena mobil baru di lima tahun pertama akan “free maintenance”. Tentunya “free maintenance” disini bukan berarti tidak dirawat sama sekali, service rutin seperti ganti oli pun tetap harus dilakukan. “Free maintenance” yang dimaksud pun adalah free dari repotnya menghilangkan bunyi-bunyian yang tidak diinginkan yang biasa muncul setelah mobil berusia belasan tahun.
Ketika jembatan itu masih baru memang tidak perlu dikencangkan baut2nya, tidak perlu distel tegangan talinya, lalu…? Seperti halnya mobil baru, tetap saja perlu service rutin… Takjubnya mengendarai mobil baru belum tentu bebas dari masalah jika perawatannya salah, jangan lengah!
Saya pun kembali ingat pitutur nenek moyang: Ojo gumunan!
Brongkos.. Brengkes…
Ketika masih tinggal sama orang tua di Jogja, menu ini sering terhidang di meja makan. Resep warisan eyang putri ini ternyata sangat lekat menempel di benakku, lezatnya menu ini tak terlupakan. Menu ini dinamai Brongkos oleh alm. Eyang tercinta..(mungkin namanya memang itu..hehehe), tapi ada juga yang menyebut Brengkes..walapun ternyata ada masakan Brengkes yang sangat berbeda dengan yang saya maksud.
Saya tidak tahu resepnya, namun yang membuat saya beruntung adalah resep ini sudah “diturunkan” ke ibu saya kemudian ke istri saya
Saya hanya tahu bahwa masakan ini menggunakan santan dan kluwak sebagai “main ingridients” nya. Saya sangat suka menyantap telur rebus utuh yang dimasukkan ke dalamnya, legit dan kenyal mirip seperti telur gudeg. Selain telur, tahu sepertinya jadi bahan isian wajib.. Bisa juga ditambah ayam atau daging sapi… Lombok rawit dan kulit mlinjo menjadi asesoris yang menambah nikmatnya masakan ini. Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan kulit mlinjo di pasar Bontang..
Nyaman di Rantau!
Kalau dihitung-hitung saya sudah 20 tahun 8 bulan merantau nun jauh dari kampung halaman Ngayogyakarto Hadiningrat ke Bumi Etam Kalimantan Timur. Memang bukan apa-apanya dibandingkan teman-teman yang sudah merantau bertahun-tahun jauh ke benua antah berantah sana… Lha wong masih di Indonesia juga..
Kalau dipikir-pikir, heran juga bagaimana saya bisa merasa “nyaman” di Bontang bertahun-tahun… Ya memang tak bisa dipungkiri, di sini saya mencari nafkah.. sesuap nasi segenggam berlian.. (berliannya gak dapet-dapet..lha wong saya bukan penggemar berlian..hehehe), saya juga tinggal bersama keluarga… Tapi bukankah itu bisa juga di dapat andaikan saya kerja dan tinggal bersama keluarga di Jakarta, Surabaya, Solo, atau bahkan di Jogja sekalipun (mulai deh berandai-andai).
Memang sih, kadang saya juga merasa jenuh dan bosan dengan suasana kota yang “itu-itu saja”, saya pun tidak heran membaca postingan teman-teman di FB ataupun twitter yang mengeluh tentang nasibnya “terdampar” di Bontang. Lalu apa sih yang membuat saya nyaman tinggal di Bontang?
Saya selalu berusaha berpikir positif terhadap kota ini, langit biru dengan awan dramatis mana sih yang tidak bisa ditemui hampir setiap hari dikala cuaca cerah? Mana sih yang tidak mengalami musim kemarau berkepanjangan? Lokasi di garis khatulistiwa dan di tepi pantai dengan angin pasatnya ternyata membawa berkah tersendiri buat kota ini, uap air bibit hujan pun dihembuskan ke kota ini sepanjang tahun… Kota mana sih yang punya warung makan dari seluruh penjuru nusantara? RM Padang (ini dimana-mana juga ada..hehehe), warung Kediri, warung Sidoarjo, warung Suroboyo, warung Gresik, warung Bojonegoro, Soto Lamongan, Warung
Jombang, warung Jember, warung Gudeg Cah Solo, soto Sragen, bakwan Malang, bakso Solo, mpek-mpek Palembang, warung Manado, coto Makassar, mie Aceh, siomay Bandung, bubur ayam Bandung, mendoan Banyumas… Mana lagi? Ada yang bisa nambah? Yach begitulah Bontangku, warung Bontang malah ndak ada
Tempat tinggal adalah tempat dimana sebagian besar waktu saya berinteraksi di dalamnya… Semua tentunya setuju, buat tempat tinggal senyaman mungkin supaya kita betah berada didalamnya.. Memang, saya tinggal di rumah dinas yang dicat dengan warna coklat khaki, sejak awal saya tinggal di kompleks ini belasan
tahun, warna cat nya itu-itu saja… Akhirnya disaat mendapat kesempatan pindah rumah dinas yang lebih besar di tanggal 5 Juni 2011 ini, maka cat interiornya pun saya rubah menjadi biru laut oceantide dan aqua blue.. Tentunya harus dengan biaya sendri karena standard dari perusahaan tetap coklat khaki, saya ndak berani merubah cat eksterior karena memang ndak boleh
Ndak apa-apa, yang penting
nyaman ketika ada di dalamnya…tidak bosan:) Fasilitas hiburan di dalam rumah pun dicoba dilengkapi.. Seperti internet connection, video game untuk anak2, dsb..
Begitulah saya mensiasati agar nyaman di rantau
*selesai ditulis tepat 30 menit setelah memasuki hari ulang tahunku
Blog-e Denmasrul… Kemanakah engkau?
Saya masih disini, blog ini masih saja bisa diakses, bisa dibaca, bisa dikomentari.. Saya pun masih mengikuti komentar-komentar yang masuk melalui email..
Sudah berapa tahun saya tidak pernah update blog ini.. Baru tadi siang ada seorang teman baik yang sudah lama tidak bersua karena tinggal di beda kota menanyakan salah satu cerita yang pernah saya posting di blog ini beberapa tahun yang lalu… Jujur, saya sudah lupa akan cerita yang ditanyakan tersebut:) Hanya saja.. Saya sedikit terkejut, ternyata masih ada juga seorang teman yang dengan sengaja mengunjungi blog yang sudah lama tidak saya update ini Dia pun menanyakan kenapa blog ini tidak pernah di-update.
Kemana saja selama ini?
Saya pun kembali memutar rekam jejak beberapa tahun yang lalu di saat saya “berhenti” meng-update blog ini. Bukan mencari pembenaran kenapa saya berhenti menulis lagi di blog ini, saya hanya ingin ber”nostalgia” dengan kondisi beberapa tahun yang lalu saat saya masih aktif menulis di blog ini… Kondisi yang tidak disadari telah berubah sedemikian rupa.
Pertama, saat mini blogging (bisa dikatakan demikian) seperti facebook dan twitter belum lahir, sarana berkomunikasi dua arah lewat dunia maya pun masih didominasi oleh friendster, YM, mIRC yang tidak bisa dipakai menyampaikan “uneg-ueg” yang ukup panjang yang bisa dibaca dengan mudah oleh kerabat, teman, kenalan, bahkan orang lain diujung sana. Saat itu blog seperti ini cukup populer mengunggah tulisan pribadi bahkan kutipan yang cukup panjang..yang bisa dibaca dan dikomentari segera.. Dengan blog, ternyata saya juga bisa mendapatkan teman baru dari seluruh penjuru dunia:) Lalu kenapa berhenti mengelola blog ini?
Ternyata ini terjadi setelah saya mulai sign-up facebook…sangat fenomenal, waktu luang saya banyak dipakai untuk facebook.. Disitu saya bisa bercerita, mengunggah foto, sekaligus mencari
teman… Kemudian diikuti dengan twitter…hasrat untuk berceloteh pun tersalurkan
Apalagi setelah ada banyak gadget/HP yang menyediakan kemudahan akses facebook dan twitter… Yang tentunya tidak untuk akses blog. Untuk update blog masih lebih nyaman menggunakan PC atau notebook yang tidak sepraktis FB dan twitter di HP yang dimanapun pun bisa adiakses dengan mudah.
Sekarang, sepertinya kondisi sudah berubah lagi… Banyak PC tablet yang ringan, kecil, bisa dibawa kemana-mana, dan praktis dioperasikan dimanapun..bahkan kekuatan batterainya pun menyaingi kekuatan batteray Handphone. Akankah blog kembali marak? Apakah blog-e Denmasrul akan kembali dengan postingan yang baru? Kita tunggu….
*ditulis dengan tablet besutan om Steve Job
Gudeg Ceker
Eh.. anak-anak makan ceker aja ya.. biar besok kalau gede bisa ceker-ceker sendiri… bapak dan ibu ambil brutunya… Hehehehe… bisa aja yach orang tua kita jaman dulu… kita gak boleh makan brutu agar tidak lalen alias pelupa.. padahal katanya brutu itu enak.. (alhasil sampai sekarang saya gak doyan brutu..dan kadang-kadang tetap lupa juga.. wkwkwkwkw). Ceker.. alias kaki ayam.. siapa bilang tidak enak? Ternyata memang enak kalau bisa masaknya.. salah satunya adalah jadi lauknya gudeg.. Gudeg Ceker..
Gudeg ceker kali ini saya temukan di Solo, lama banget saya pengen ngerasain Gudek Ceker bu Kasno di Margoyudan Solo.. sayangnya buka nya malam banget..waktunya anak-anak (dan orangtuanya) tidur… akhirnya gak pernah kesampaian… Lhadalah..kali ini Gudeg Ceker Bu Kasno buka mulai sore hari juga, tapi lokasinya tidak di Margoyudan tapi di cabangnya yang terletak di Jl. Slamet Riyadi, tepatnya di perempatan Ngarsopuran.. sip banget… ndak perlu nunggu pe malam…:-)
Gudegnya hampir sama dengan gudeg-gudeg yang lain.. kami menyebutnya gudeg basah.. lauknya aja yang bisa milih macem-macem termasuk ceker… yang empuk dan kenyil-kenyil..slurrppp… Kesampaian juga makan gudeg ceker di Solo…
Hutan Kota Bontang
Menempati area sekitar 7000 Ha di daerah Sekambing Bontang Barat, hutan kota yang dirintis bersama-sama antara Pemkot Bontang dan PT. DSM KALTIM Melamine melalui gerakan Reforestation yang dicanangkan pada waktu itu masih tampak hijau dan segar, apalagi Bontang siang ini baru saja diguyur hujan…. ![]()
Campur tangan perusahaan yang bergerak di bidang industri melamin ini menghasilkan hutan kota yang tampak begitu terawat dan asri…
Tidak sulit untuk mencapai lokasi hutan kota ini, lokasinya yang dekat dengan kantor DPRD dan (calon) kantor Walikota Bontang di daerah Sekambing memudahkan kita untuk menuju kesana dengan prasarana jalan yang cukup memadai..
Bangunan pendopo yang dilengkapi dengan toilet dan pelataran yang cukup luas sepertinya cocok banget untuk tempat gathering… Bisa dicoba..
Gudeg Pawon Janturan Jogjakarta
Cukup lama hibernasi saya di blog ini, …..
Kembali lagi ke Gudeg Jogja… siapa sih yang gak kenal dengan Gudeg Jogja, tapi saya yakin belum semua pernah ngerasain Gudeg Pawon di Jalan Janturan Umbulharjo Jogjakarta… termasuk saya.. yang baru pertama kalinya mampir saat liburan akhir tahun 2009 yang lalu bersama keluarga
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.. ya toh… (alasan saja kayaknya.. padahal saya kan wong Jogja asli.. hehehehe)
Bareng adik saya yang datang dari Jakarta (mereka malah sudah mau yang kedua berkunjung kesitu)… meluncurlah saya ke jalan Janturan.. masuk dari Jalan Kusumanegara… Kala itu jam menunjukkan pukul 00.00… ya jangan kaget karena bukanya memang baru jam 23.30. Lokasinya ada di tengah perkampungan, memang kalau yang belum pernah kesana pasti bingung..karena gak ada tulisan apalagi baliho yang menunjukkan disinilah lokasi Gudeg Pawon seperti halnya penjual gudeg yang lain.. (Yu Djum misalnya). Untung saya ajak adik saya yang sekaligus jadi guide dadakan.. turisnya orang Jogja asli.. hehehehehe. Tapi gampang kok, cari aja tempat yang rame dengan mobil-mobi parkir di pinggir jalan yang sempit itu.
Kenapa dinamai Gudeg Pawon, karena jualannya memang di pawon alias dapur sebuah rumah.. Ternyata disitu pembeli sudah antri panjang
untuk masuk ke pawon melalui pintu yang sempit… Persis antri mau beli tiket KA Lebaran… Buat yang pertama kali datang pasti penasaran dan langsung nerobos masuk ke pawon.. karena dipikir yang antri itu buat yang take away .. ternyata tidak kawan.. semua harus antri… buat yang sudah terlanjur nerobos masuk ke pawon ya keluar lagi antri dari belakang
Nah..begitu sampai gilirannya kita ditanya mau makan pakai apa.. (jangan ambil sendiri ya.. karena kalian akan dilayani..). Tinggal sebut aja..gudeg pakai telor dan kepala (favorit ya.. biar bisa jadi kepala.. wkwkwkwkwkw)
Sepiring nasi gudeg pakai telor dan kepala sudah di tangan, kita keluar dari pawon..cari tempat duduk di teras.. lesehan… Dengan ditemani teh nasgitel panas.. nikmat sekali rasanya malam itu.. suasana Jogja begitu kental terasa (Jogja tidak identik dengan Malioboro saja loh..). I will come back there…
Senja Indah di Bontang Kuala
Sore itu.. disaat wiken.. bingung mo ngapain… akhirnya daripada bingun en bingun… saya hela si kuda besi abu-abu Honda CS1 keluar rumah menuju Bontang Kuala… sendirian pula.. Wah… semilir angin sore itu terasa segar menerpa wajah.. (padahal pakai helm dengan face shield… hehehehe… ngarang deh)
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 6 di sore hari.. dah hampir gelap yach… terus saja si kuda besi itu kupacu ke kampung Bontang Kuala yang tersohor di kota Bontang itu. Siapapun yang pernah berkunjung ke Bontang apalagi stay di Bontang pasti tahu Bontang Kuala… buat yang belum pernah ke Bontang… silahkan penasaran dulu yach… hehehehe… baca cerita dan lihat fotonya di beberapa blog dan website dulu aja deh
Continue reading
Muncul lagi ah….
Eee.. eee… lama banget ndak update nih blog.. gaya-gaya.. eh.. gara-gara suibuk dengan uyusan kantol.. urusan kantor.. pulang malam terus.. “Apa yang kau cari, Rul?”
Apalagi kalau tidak sekarung beras dan segenggam berlian.. halah.. hiperbol banget deh.. Yach.. ternyata hidup ini harus memilih.. ya toh… harus bisa memilih mana prioritas yang didahulukan disaat-saat kita tidak memiliki waktu lebih… Sehari 24 jam sudah cukup buat kita… tidak perlu ditambah. Yang terpenting bagi saya adalah mengerjakan apa yang sudah menjadi pilihan dengan sepenuh hati… karena waktu tidak bisa diputar ulang… Kerjakan apa yang telah dipilih dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan karena kita tidak tahu apa yang terjadi hari esok.. ya kan.. ya kan…? ![]()
Waduh.. perasaan … saya kok jadi romantis banget sih.. hahahaha.. Lanjut!


